{"id":238,"date":"2020-08-22T05:36:19","date_gmt":"2020-08-22T05:36:19","guid":{"rendered":"http:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/?page_id=238"},"modified":"2024-09-17T10:37:48","modified_gmt":"2024-09-17T10:37:48","slug":"background","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/background\/","title":{"rendered":"Latar Belakang"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Pembangunan Berkelanjutan 2030 merupakan agenda global yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan bagi semua orang. Agenda ini dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (<em>Sustainable Development Goals<\/em> atau SDGs) dan diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015. SDGs menempatkan manusia dan planet sebagai pusat perhatian, dan mengajak komunitas internasional untuk bersama-sama mengatasi tantangan-tantangan kemanusiaan. Dalam konteks dunia kerja, SDGs juga berperan sebagai penawar terhadap kepercayaan yang hilang terhadap institusi dan kerja sama global. Kreativitas, teknologi, dan sumber daya finansial dari seluruh masyarakat diperlukan untuk mencapai SDGs di setiap konteks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Pembangunan berkelanjutan berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan sekarang disertai dengan tanggung jawab terhadap kebutuhan generasi yang akan datang. Keseimbangan antara pilar ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya menjadi unsur yang sangat penting dalam pengambilan keputusan saat ini dan harus tercermin dalam tingkah laku ke arah kelestarian dan keberlanjutan. Dukungan dan promosi pembangunan berkelanjutan menjadi aspek yang penting di semua tingkat pendidikan. Civitas akademika memiliki peran sentral dalam mewujudkan visi ini. Pengalaman dari civitas akademika telah mendorong implementasi Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development &#8211; ESD) dalam kegiatan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Jejaring yang terbentuk juga menjadi wadah bagi tindakan nyata menuju pembangunan berkelanjutan. Selain itu, civitas akademika juga memiliki peran penting dalam upaya mencapai target pembangunan berkelanjutan, yang dapat dimulai dari masing-masing daerah hingga menuju nasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Pembangunan berkelanjutan memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk civitas akademika. Civitas akademika dituntut untuk memiliki karakter entrepreuner dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi guna mendukung pembangunan berkelanjutan . Civitas akademika yang memiliki jiwa entrepreuner cenderung memiliki sifat proaktif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. Civitas akademika yang memiliki jiwa entrepreuner mampu mengidentifikasi peluang dan mengambil tindakan untuk mengatasi tantangan pembangunan berkelanjutan. Dalam lingkungan perguruan tinggi, karakter entrepreuner dapat tercermin dalam berbagai aspek: <strong>Inovasi dan Riset:<\/strong> Civitas akademika yang memiliki karakter entrepreuner seringkali terlibat dalam penelitian dan pengembangan inovatif. Mereka menciptakan solusi baru untuk masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi. Misalnya, peneliti yang mengembangkan teknologi ramah lingkungan atau model bisnis berkelanjutan. <strong>Pengabdian kepada Masyarakat:<\/strong> Karakter entrepreuner mendorong anggota civitas akademika untuk berkontribusi secara langsung pada masyarakat. Mereka dapat mengorganisir program pelatihan, workshop, atau kampanye edukasi tentang isu-isu berkelanjutan. Contohnya, mahasiswa yang menginisiasi proyek lingkungan di desa sekitar kampus. <strong>Kewirausahaan Sosial:<\/strong> Civitas akademika dengan karakter entrepreuner seringkali terlibat dalam kewirausahaan sosial. Mereka menciptakan bisnis atau organisasi yang memiliki dampak positif pada masyarakat dan lingkungan. Contohnya, dosen yang mendirikan perusahaan yang mengolah limbah menjadi produk bernilai. <strong>Pendidikan dan Kesadaran:<\/strong> Karakter entrepreuner memotivasi anggota civitas akademika untuk mengedukasi orang lain tentang pentingnya pembangunan berkelanjutan. Mereka dapat mengajar mata kuliah terkait lingkungan, mengadakan seminar, atau menulis artikel ilmiah. Contohnya, profesor yang menginspirasi mahasiswa untuk berkontribusi pada keberlanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Sesuai dengan amanah Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 20, bahwa penelitian dan pengabdian kepada masyarakat wajib diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 45 menegaskan tentang arah penelitian dan pengabdian masyarakat yakni untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa. Perguruan tinggi dalam hal ini adalah civitas akademika yang memiliki karakter entrepreunership telah banyak menghasilkan inovasi yang mendatangkan manfaat langsung bagi Masyarakat dalam rangka mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat global.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Interdisiplin ilmu dalam pembangunan berkelanjutan memainkan peran penting dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Konsep interdisiplin melibatkan kerjasama dan integrasi antara disiplin-disiplin yang berbeda untuk menghadapi tantangan pembangunan berkelanjutan. Istilah \u201cinterdisiplin\u201d merujuk pada kolaborasi di antara para ilmuwan dari berbagai bidang pengetahuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait interdisiplin dalam konteks pembangunan berkelanjutan diantaranya: <strong>Kolaborasi:<\/strong> Interdisiplin melibatkan kerjasama antara satu atau lebih disiplin ilmu. Para peneliti, akademisi, dan praktisi bekerja bersama untuk menggabungkan pengetahuan dan pendekatan dari berbagai bidang, seperti ilmu lingkungan, ekonomi, sosial, dan teknik. <strong>Integrasi Pengetahuan:<\/strong> Interdisiplin memungkinkan integrasi pengetahuan dari berbagai disiplin. Misalnya, dalam mengatasi perubahan iklim, ilmuwan lingkungan bekerja sama dengan ahli energi, ekonom, dan masyarakat untuk mengembangkan solusi yang holistik. <strong>Pendekatan Holistik:<\/strong> Interdisiplin memandang masalah secara menyeluruh. Dengan menggabungkan perspektif berbeda, kita dapat memahami dampak pembangunan berkelanjutan secara lebih komprehensif dan mengambil tindakan yang lebih efektif. <strong>Penyelesaian Masalah Nyata:<\/strong> Interdisiplin berfokus pada aplikasi pengetahuan untuk mengatasi masalah dunia nyata. Tim interdisiplin dapat mengembangkan solusi yang lebih berdaya guna dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-black-color has-text-color\">Berdasarkan latar belakang tersebut, maka Pascasarjana Universitas Jambi akan menyelenggarakan Seminar Nasional Interdisiplin Pascasarjana (SNIP) dengan tema \u201c<strong>Peran Generasi Unggul berkarakter Entrepreuner dalam mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan 2030\u201d. <\/strong>Seminar ini diharapkan akan memberikan motivasi dan inspirasi, terutama kepada akademisi, peneliti dan pengabdi untuk melahirkan berbagai karya ilmiah, produk dan konsep aplikatif terutama terkait dengan IPTEK yang canggih dan inovatif dalam meningkatkan sumber daya manusia agar dapat memberikan kontribusi dalam Pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembangunan Berkelanjutan 2030 merupakan agenda global yang bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan bagi semua orang. Agenda ini dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) dan<a class=\"moretag\" href=\"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/background\/\">Read More&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/238"}],"collection":[{"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=238"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/238\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2462,"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/238\/revisions\/2462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/snipunja20.unja.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}